Ikhwan, separuh jiwamu telah menanti

Siapa yang tak kenal hadits berikut:

“Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka segeralah menikah. Karena sesungguhnya menikah itu lebih menjaga kemaluan dan memelihara pandangan mata. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa menjadi benteng (dari gejolak birahi).” (HR. Bukhari).

Banyak yang sudah bekerja dan gaji tinggal menunggu tiap bulan, yang penguasaha tinggal menghitung tiap hari, Apa lagi yang ditunggu. Kasihanilah mereka, Yang dalam tiap sepertiga malamnya memohon dengan sangat, menetes dari sudut bola matanya dan berdoa:

“Ya rabb, beri aku tanda jika ia adalah jodohku
tunjukkan segera siapa yang pantas untukku
aku sudah siap untuk ia9ikhwan) yang akan melabuhkan cintanya….”

Terlalu lama tertahan dengan angan-angan, ketahuilah bahwa itu adalah godaan setan. Tidakkah engkau ketahui kutamaan dan keindahannya. Menikah bukan sekedar menjadi halalnya farji seorang wanita, menikah bukan sekedar berlabuhnya cinta yang kau punya, bahkan segala halnya berpeluang mendatangkan pahala.

Ibnu Katsir meriwayatkan satu hadits dari Anas bin malik dalam tafsirnya,”ada satu amalan yang tidak diniatkan tapi mendapatkan pahala, yakni memberi mencari nafkah untuk keluarganya dan memberi makan kuda yang dipakai untuk berjihad di jalan Allah. Subahanallah, apa yang membuatmu tertahan untuk menikah?…

Sudah siap wanita yang seperti Asma’ binti abu Bakar, yang rela dengan kemiskinannya berbakti kepada suami, sudah siap wanita yang seperti Khadijah binti Khuwalid yang dengan hartanya mendukung dakwah rasul, apakah engkau mendamba wanita yang seperti Fatimah binti Muhammad yang siap membuat adonan roti demi mengobati rasa lapar Ali bin Abu Thalib, mau yang mana yang engkau pilih wahai ikhwan?…

Ditunggu, seorang ikhwan yang siap mental, diuji keberanianya untuk mengkhitbah bidadari-bidadari yang siap melayani. Kapan lagi…

Menempa kedewasaan dengan menikah

Sebuah tulisan yang sempat tertunda, akhiranya selesai juga …

Menikah, dengannya telah nyata bukti cintanya tulus atau terpaksa, bagaiakan air yang telah benar-benar mendidih di dalam pancinya setelah lama dipanaskan dengan panas api yang sempurna, telah nyata emas kemurnianya setelah disepuh dengan api yang telah sempurna panasnya dan, telah sempurna manisnya buah durian yang terjatuh dari tangkainya setelah lama dimaksak di setiap dahannya. Tidak ada lagi kesamaran setelah menikah. Kekurangan dan kelebihan telah nampak nyata disetiap detik masa yang terlalui bersama, setiap desahan nafasnya, telah nyata di setiap lekuk anggota tubuhnya dengan kekurangan dan kelebihannya.

Mereka yang sudah merasa berat untuk berkata ‘istriku, aku sungguh mencintaimu”, ketika telah banyak anak yang dimilikinya laksana mawar–mawar sebagi lambang kedamaian dalam bahtera rumah tangganya. Tuntutan kesetiaannya mulai teruji di saat istri tak lagi mampu bersolek dengan make upnya yang sesuai dengan warna kulitnya, tatanan rambutnya yang sesuai dengan bentuk kepalanya, cara berpakaian yang sesuai dengan kondisisnya. Sanggupkah kita untuk ikhlas dengan setulus-tulusnya “aku akan tetap setia untukmu”. Suami yang tak lagi kokoh langkahnya, kekar dadanya, serta tak lagi setampan ketika pertama kali membuatnya terpesona. Subahanallah.

Sejarah yang dicatat dalam kitab-kitab para ulama bagaiamana naik turunnya bahtera rumah tangga diterpa badai. Tidak terkecuali rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam habibul mustafa,. Beliau pernah berniat menceraikan istrinya, beliau pernah bertengkar dengan istrinya dan beliau pernah mendiamkan salah satu istrinya yang karenanya al qur’an turun menyelesaiakan parmasalahan yang dihadapainya. Lihatlah diri kita, umat yang jauh dari sebuah generasi di mana wahyu terus turun memberi pemecahan di setiap permaslahan yang ada ketika itu.

Umar bin khattab, salah satu khalifah yang tegas, tapi ketegasannya tidak berarti ap-apa ketika menghadapi sifat istrinya. Ali bin abi thalib, salah satu sahabat pilihan yang pemalu, mendapat gelar abu turab lantaran tidur di lantai masjid sebab perselisihannya dengan Fatimah ummul mukminin. Begitu juga rasulullah, yang melaluinya syariat Islam tersampaiakan, istrinya pernah pulang kembali ke ayahnya lantaran kemarahannya kepada beliau. Sungguh satu hal yang sangat mungkin bagi umatnya(bmuhammad shalallahu ‘alaihi wasallam) berselisih dengan istri-istrinya.

Wahai keluarga muda, apa kata Islam tentang keluarga muslim, bukan berarti bebas dari masalah akan tetapi bagaimana ia bisa memecahkan masalah dengan bijak tanpa ada yang dirugikan dan terdzalimi. Bukan kata terakhir di setiap perselisishannya dengan kata ‘cerai”. Wanita tercipata dari tulang rusuk yang bengkok yang ditakdirkan untuk laki-laki. Wanita adalah mahkhluk Allah yang menkajubkan yang mampu mengalahkan laki-laki yang tegas. haruskah haruskan seorang laki-laki tunduk begitu saja mengahdapi kedurhakannya, yang dicari adalah bagaimana seorang suami mampu mengantarkan kebahagiaan di dunia dan akhiratnya dari tulang rusk yang bengkok itu. Teantangan besar memang…

Untuk sebuah kebahagiaan, dituntut bagi suami istri mampu mengolah perselisihan menjadi ramuan cinta baru yang dengannya kenikmatan rasanya bertambah sempurna, sebagamana sempurnanya benang dengan sutranya. Meramu cinta adalah sebuah kepandaian bagia suami istri yang ingin memuluskan bahtera rumah tangganya untuk berlayar menuju samudra luas. Dengannya cinta mampu senantiasa memberi kekuata baru tak terkecuali adalah mampu maenempa kedewasaan yanjadi matang, sebagaimana sempurnanya mawar ynag mekar di sinari cahaya mentari pagi, begitu sempurna keindahannya.

Kedewasaan muncul bukan tanpa ujian,, selalulah hadapi setiap permasalahan dengan menggali setiap pemecahannya. Tidak melulu menambah tajamnya perselisihan yang dengannya perceraian yang berujung pada penyesalan. Seorang istri memahami bahwa tabiat suaminya ingin ditaati, seorang suami memahami, bahwa tabiat istri ingin dicintai. kenapa tidak sama-sama berhenti sejenak ketika pertengkaran memanas. Jangan sampai ada satu cerita menyedihkan, bahwa seorang istri bercerita” aku seorang istri yang siudah memiliki enam anak, tapi saat ini yang muncul dipikiranku adalh meninggalkan mereka. Aku tidak lagi mendengar kelembutan tutur kata dari suamiku, kekasarna suamiku yang dengannya aku tidak lagi bersandar di dada bidangnya. Aku tidak lagi dibuai oleh pelukan hangatnya yang membuatnya aku merasakan kedamaian. aku ingin sekali bercerai, tapi…..”

Sebuah cerita menarik, ada seorang istri mengeluahkan uang balanja yang mulai kurang karena naiknya harga-harga sembako. maka seorang suami membuat catatan kecil yang isi tulisannya adalah”perbaikilah tempat ini, kelak engkau akan cukup”, kemudian secarik kertas diletakkannya di dapur. Setelah catatn itu dibaca oleh sang istri, maka sang sitripun tidak mau kalah dan ia membuat catatn di secarik kertas juga, yang isinya adalha” perbaikilah tempat ini”, kemudian sang istri meletakkan catatan kecilnya di kasur, ternyata suaminyapun membacanya. Kiranya demiian adalh satu keterus terangan yang tersembunyi. kenapa kita tidak bisa bermusyawarah, bagaimana memecahan masalah di setiap perselisihan yang dihadapinya.

Dituntut, kepandaoian dari suami seni merayu istri dan kelincahan seorang istri yang dengannya seorang suami bagaiakna bayi besar, muka merah karena marah menjadi merah karena malu, subahanallah. Di manakah kepandaian itu? jangan biarakan suami merasa puas melihat kecantikan wanita-wanita yang terlihat oleh suami di tepian jalan, terpampang di majalah-majalh, berperan di sinetron-sinertron. Jangan sampai seorang suami mendengar dari telingany ucapan istri” suamiku, engkau adalah orang yang tidak asing lagi bagiku”, la khaula wala quwwata illa billah…”

Diceritakan dalam sebuah hadits yang shahih, riwayat nasi, suatu hari Safiyyah radiyallahu ‘anha mendapat giliran safar bersama rasulullah. Beliau radiyallahu ‘anha diberikan sebuah onta, Keingin dari Safiyyah adalah agar beliau bisa bercengkerama dengan rasulullah habibul mustafa. Akan tetapi malang bagi dirinya unta yang ditumpanginya tertinggal. Akhirnya sesampainya di tujuan, Shafiyahpun berkata kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam “wahai rasulullah, engkau berikan aku unta yang lambat?”, kemudian Shafiyahpun menangis dan kemudian pula Rasulullah menyeka air matanya dan setelah itu mendiamkan. Akan tetapi di tunggunya Safiyyah ternyata tidak juga berjhenti dari tangisannya karena kecewa tidak bisa bercengkerama dengan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Akhirnya beliau tinggal Shafiyyah yang sedang menangis. Subahanallah. Telah shahih cerita-cerita indah bagaimana perlakuan =Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika bergaul dengan istri0istrinya.

Wahai generasi muda yang baru melangkah menapaki kaki menuju bejtera rumah tangga, belajarlah dari kisah-kisah indah bagia mana Rasulullah memecahkan masalh rumah tangga, biasakanlah membaca hadits0hadits, yang dengannya terkumpul dalam diri kita ilmu yang menjadikan kokoh cinta kita..Jangan belajar dari cintanya Kahlil gibran,, jangan belajar dari cerita cinta yang ada di senotron-sinetron dan jangan belajar dari cinta yang ada di novel-novel orang-orang yang telah dirasuki oleh saithan.

Belajar menjadi dewasa? menikahlah…

Tunggu berikutnya”nasihat emas bagi para istri yang dirindu para suami” dan “memupuk kerinduan ketika cinta terasa bosan”insyaAllah…

Menepa kedewasaan dengan menikah

Sebuah tulisan yang sempat tertunda, akhiranya selesai juga …

Menikah, dengannya telah nyata bukti cintanya tulus atau terpaksa, bagaiakan air yang telah benar-benar mendidih di dalam pancinya setelah lama dipanaskan dengan panas api yang sempurna, telah nyata emas kemurnianya setelah disepuh dengan api yang telah sempurna panasnya dan, telah sempurna manisnya buah durian yang terjatuh dari tangkainya setelah lama dimaksak di setiap dahannya. Tidak ada lagi kesamaran setelah menikah. Kekurangan dan kelebihan telah nampak nyata disetiap detik masa yang terlalui bersama, setiap desahan nafasnya, telah nyata di setiap lekuk anggota tubuhnya dengan kekurangan dan kelebihannya.

Mereka yang sudah merasa berat untuk berkata ‘istriku, aku sungguh mencintaimu”, ketika telah banyak anak yang dimilikinya laksana mawar–mawar sebagi lambang kedamaian dalam bahtera rumah tangganya. Tuntutan kesetiaannya mulai teruji di saat istri tak lagi mampu bersolek dengan make upnya yang sesuai dengan warna kulitnya, tatanan rambutnya yang sesuai dengan bentuk kepalanya, cara berpakaian yang sesuai dengan kondisisnya. Sanggupkah kita untuk ikhlas dengan setulus-tulusnya “aku akan tetap setia untukmu”. Suami yang tak lagi kokoh langkahnya, kekar dadanya, serta tak lagi setampan ketika pertama kali membuatnya terpesona. Subahanallah.

Sejarah yang dicatat dalam kitab-kitab para ulama bagaiamana naik turunnya bahtera rumah tangga diterpa badai. Tidak terkecuali rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam habibul mustafa,. Beliau pernah berniat menceraikan istrinya, beliau pernah bertengkar dengan istrinya dan beliau pernah mendiamkan salah satu istrinya yang karenanya al qur’an turun menyelesaiakan parmasalahan yang dihadapainya. Lihatlah diri kita, umat yang jauh dari sebuah generasi di mana wahyu terus turun memberi pemecahan di setiap permaslahan yang ada ketika itu.

Umar bin khattab, salah satu khalifah yang tegas, tapi ketegasannya tidak berarti ap-apa ketika menghadapi sifat istrinya. Ali bin abi thalib, salah satu sahabat pilihan yang pemalu, mendapat gelar abu turab lantaran tidur di lantai masjid sebab perselisihannya dengan Fatimah ummul mukminin. Begitu juga rasulullah, yang melaluinya syariat Islam tersampaiakan, istrinya pernah pulang kembali ke ayahnya lantaran kemarahannya kepada beliau. Sungguh satu hal yang sangat mungkin bagi umatnya(bmuhammad shalallahu ‘alaihi wasallam) berselisih dengan istri-istrinya.

Wahai keluarga muda, apa kata Islam tentang keluarga muslim, bukan berarti bebas dari masalah akan tetapi bagaimana ia bisa memecahkan masalah dengan bijak tanpa ada yang dirugikan dan terdzalimi. Bukan kata terakhir di setiap perselisishannya dengan kata ‘cerai”. Wanita tercipata dari tulang rusuk yang bengkok yang ditakdirkan untuk laki-laki. Wanita adalah mahkhluk Allah yang menkajubkan yang mampu mengalahkan laki-laki yang tegas. haruskah haruskan seorang laki-laki tunduk begitu saja mengahdapi kedurhakannya, yang dicari adalah bagaimana seorang suami mampu mengantarkan kebahagiaan di dunia dan akhiratnya dari tulang rusk yang bengkok itu. Teantangan besar memang…

Untuk sebuah kebahagiaan, dituntut bagi suami istri mampu mengolah perselisihan menjadi ramuan cinta baru yang dengannya kenikmatan rasanya bertambah sempurna, sebagamana sempurnanya benang dengan sutranya. Meramu cinta adalah sebuah kepandaian bagia suami istri yang ingin memuluskan bahtera rumah tangganya untuk berlayar menuju samudra luas. Dengannya cinta mampu senantiasa memberi kekuata baru tak terkecuali adalah mampu maenempa kedewasaan yanjadi matang, sebagaimana sempurnanya mawar ynag mekar di sinari cahaya mentari pagi, begitu sempurna keindahannya.

Kedewasaan muncul bukan tanpa ujian,, selalulah hadapi setiap permasalahan dengan menggali setiap pemecahannya. Tidak melulu menambah tajamnya perselisihan yang dengannya perceraian yang berujung pada penyesalan. Seorang istri memahami bahwa tabiat suaminya ingin ditaati, seorang suami memahami, bahwa tabiat istri ingin dicintai. kenapa tidak sama-sama berhenti sejenak ketika pertengkaran memanas. Jangan sampai ada satu cerita menyedihkan, bahwa seorang istri bercerita” aku seorang istri yang siudah memiliki enam anak, tapi saat ini yang muncul dipikiranku adalh meninggalkan mereka. Aku tidak lagi mendengar kelembutan tutur kata dari suamiku, kekasarna suamiku yang dengannya aku tidak lagi bersandar di dada bidangnya. Aku tidak lagi dibuai oleh pelukan hangatnya yang membuatnya aku merasakan kedamaian. aku ingin sekali bercerai, tapi…..”

Sebuah cerita menarik, ada seorang istri mengeluahkan uang balanja yang mulai kurang karena naiknya harga-harga sembako. maka seorang suami membuat catatan kecil yang isi tulisannya adalah”perbaikilah tempat ini, kelak engkau akan cukup”, kemudian secarik kertas diletakkannya di dapur. Setelah catatn itu dibaca oleh sang istri, maka sang sitripun tidak mau kalah dan ia membuat catatn di secarik kertas juga, yang isinya adalha” perbaikilah tempat ini”, kemudian sang istri meletakkan catatan kecilnya di kasur, ternyata suaminyapun membacanya. Kiranya demiian adalh satu keterus terangan yang tersembunyi. kenapa kita tidak bisa bermusyawarah, bagaimana memecahan masalah di setiap perselisihan yang dihadapinya.

Dituntut, kepandaoian dari suami seni merayu istri dan kelincahan seorang istri yang dengannya seorang suami bagaiakna bayi besar, muka merah karena marah menjadi merah karena malu, subahanallah. Di manakah kepandaian itu? jangan biarakan suami merasa puas melihat kecantikan wanita-wanita yang terlihat oleh suami di tepian jalan, terpampang di majalah-majalh, berperan di sinetron-sinertron. Jangan sampai seorang suami mendengar dari telingany ucapan istri” suamiku, engkau adalah orang yang tidak asing lagi bagiku”, la khaula wala quwwata illa billah…”

Diceritakan dalam sebuah hadits yang shahih, riwayat nasi, suatu hari Safiyyah radiyallahu ‘anha mendapat giliran safar bersama rasulullah. Beliau radiyallahu ‘anha diberikan sebuah onta, Keingin dari Safiyyah adalah agar beliau bisa bercengkerama dengan rasulullah habibul mustafa. Akan tetapi malang bagi dirinya unta yang ditumpanginya tertinggal. Akhirnya sesampainya di tujuan, Shafiyahpun berkata kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam “wahai rasulullah, engkau berikan aku unta yang lambat?”, kemudian Shafiyahpun menangis dan kemudian pula Rasulullah menyeka air matanya dan setelah itu mendiamkan. Akan tetapi di tunggunya Safiyyah ternyata tidak juga berjhenti dari tangisannya karena kecewa tidak bisa bercengkerama dengan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Akhirnya beliau tinggal Shafiyyah yang sedang menangis. Subahanallah. Telah shahih cerita-cerita indah bagaimana perlakuan =Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika bergaul dengan istri0istrinya.

Wahai generasi muda yang baru melangkah menapaki kaki menuju bejtera rumah tangga, belajarlah dari kisah-kisah indah bagia mana Rasulullah memecahkan masalh rumah tangga, biasakanlah membaca hadits0hadits, yang dengannya terkumpul dalam diri kita ilmu yang menjadikan kokoh cinta kita..Jangan belajar dari cintanya Kahlil gibran,, jangan belajar dari cerita cinta yang ada di senotron-sinetron dan jangan belajar dari cinta yang ada di novel-novel orang-orang yang telah dirasuki oleh saithan.

Belajar menjadi dewasa? menikahlah…

Tunggu berikutnya”nasihat emas bagi para istri yang dirindu para suami” dan “memupuk kerinduan ketika cinta terasa bosan”insyaAllah…

Menjadi suami plus murabbi

Isteri mana yang tidak bangga punya suami plus murabbi. Dengannya menjadi tempat berlabuh cinta sekaligus penyejuk batinnya dengan siraman-siraman rohaninya. Suami pilihan, menjadi dambaan setiap akhwat.
Ia(suami) mampu menjadikan setiap saatnya sebagai ladang pahala dengan nasihat di setiap kata-katanya, membawa kedamaian. Subahanallah…

Allah T’ala berfirman:

Artinya : Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suami-nya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz[1] , hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.” [An-Nisaa’ : 34]

Ada saat-saat di mana paling tepat bagi ana untuk selalu bermulazamah dengan istri ana, dengan niat ikhlas ana niatkan diri ana sebagi suami ani hamida, tarbiyah demi tarbiyah sering menjadi waktu tersendiri dan bahkan berusaha seistimewa mungkin. Memang perselisihan selalu ada, namun manakala ana dan istri ana teringat akan konsekwensi kami berdua menjadi cairlah apa yang di perselisihkan di antara kami.

“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [At-Tahrim : 6]

Saling memaafkan menjadi hal yang selalu menjadi kebiasan manakala terjadi salah paham di antara suami dan isteri mana kala salah dalam penyampaian. Dua latar belakang yang berbeda itulah yang terjadi di antara keduanya namun seketika itu pula menjadi cair mana kala teringat beberapa permintaan dari istri salah satunya adalah “ajaklah aku menuju surga”. Saatnya saling mengingatkan menjadi hal yang rutin dalam setiap kesempatan.

Akhirnya, menjadi murabbi bagi isteri, sadar atau sadari menjadi murabbi + suami menuntut lebih agar suami lebih dalam dan giat lagi mendalami ilmu-ilmu syar’i yang ada, di mana di dalamnya terdapat sunnah-sunnah yang haq. Dan akhirnya pula tidak ada kata berhenti mengaji setelah nikah, tidak dan tidak

Yang di pahami pula, siapa saja pada dasarnya secara fitrah tidak akan menolak kebenaran, hanya watak aslilah yang membuatnya enggan mengakui kebenaran, karenanya perlu kejelian dalam mentarbiyahnya(isteri), baik waktu, tempat agar terasa pas kebenaran itu di terimanya.

“Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau membiarkannya, ia akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berwasiat-lah kepada wanita dengan kebaikan.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5185-5186) dan Muslim (no. 1468 (62)), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu].

Suami plus murabbi, akwat mana yang tidak memimpikannya….

Mari Benahi Hati

Jika kehendak Allah memberi kita kemampuan berbicara pada alam, coba kita tanya kepada seisinya, siapa yang membuat pohon kelapa menjulang?, siapa yang membuat gunung tinggi membumbung?, tanyakan kepada burung-burung siapa yang membuat ia terbang?, tentu mereka akan menjawab Allah!!!!.

“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Fathir: 28)

Kitapun terkadang lupa akan kesmpurnaan anggota tubuh kita, mata, telinga, kaki dan seluruhnya, sudahkah kita bertasbih atas ksempurnaan ciptaan_Nya. Seberapa keraskah hati kita sampai saat ini?. Dengannya kita tidak takut lagi untuk membangkang perintah-perinta_Nya. Wal yaddu billah ampuni daku Ya Rabb.

Hati yang khusyu, menjadikan kita ikhlash beribadah, hati yang tunduk menjadikan kita hamba yang shalih serta hati yang lembut menjadikan kita insan kamil. Sampai dimana hati kita mengarungi lautan ibadah. Tungku ibadah yakni harap, khauf dan mahabbah, sudahkah kita memanaskannya? yang dengannya menjadi sempurnalah masakan iman yang terolah dalam dada kita. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Ketahuilah sesungguhnya penggerak hati menuju Allah ‘azza wa jalla ada tiga: Al-Mahabbah (cinta), Al-Khauf (takut) dan Ar-Rajaa’ (harap). Yang terkuat di antara ketiganya adalah mahabbah, tetapi kita terkadang menyiapakan untuk itu. Mmemilih tungku yang bagus, kayu bakar pilihan dan tempat yang pas. Sebarapa besar usaha kita untuk mengolahnya. Kelezatan masakan iman akan sempurna jika tungku ibadah dibakar dengan apa yang sempurna. Subahanllah…

Jiwa yang manusia memilikinya, ia senantiasa berbolak balik bergantung dengan keadaannya. Sudahkah kita memohon pada Allah untuk dijadikan sebagia jiwa yang hanif?. Jiwa yang takut, yang dengannya menjadi mendidih darah, tulang-tulang bergemuruh serta persendian bergetar karena besarnya ketundukan seorang hamba akan Allah subahanhu wata’ala. Sudahkan kita memiliki jiwa yang hanif itu?, mari kita belajar menuju ke arah sana, sebuah jalan yang akan menciptakan di dalamnya rasa takaut. Apa jadinya jika seorang hamba kehilangan rasa takutnya. Syaikhul Islam berkata: “Apabila seorang insan tidak merasa takut kepada Allah maka dia akan memperturutkan hawa nafsunya”.

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Orang-orang yang diseru oleh mereka itu justru mencari jalan perantara menuju Rabb mereka siapakah di antara mereka yang bisa menjadi orang paling dekat kepada-Nya, mereka mengharapkan rahmat-Nya dan merasa takut dari siksa-Nya.” (QS. al-Israa’: 57)

Allah subhanahu wat’ala senantiasa mendengar do’a panjang hambanya yang senantiasa memiliki harapan besar, membahagiakan orang-orang yang dicintainya, kesuksesan dunia serta keinginan terbesarnya adalah sempurnanya hidup dengan hadirnya kebahagaan. Akan tetapi pernahkah terbesit dalam benak kita untuk senantiasa bertaslim(berserah diri) kepada Allah subhanahu wata’ala?, yang dengannya Ia bangga. Siapa yang tidak ingin jika karenanya(amalannya) ia menjadi orang yang dicintai Allah Rab Yang Maha Sempurna.

Sufyan At tsuari rahimahullah air seninya berdarah-darah, ketika didatangkan kepadanya seorang tabib dan tabib itu berkata,”darah yang keluar dari air kencing orang ini adalah darah yang keluar dari hati yang takut akan Allah”. Maka tabib tersebut menyarankan kepada murid Tsufyan at tasuri rahimahullah agar gurunya mngurangi rasa takut. Akan tetapi tsufyan at tsaury berkata,” sejelek-jelek tabib adalah tabib engkau”. Kemudian, hasan bin Ali radiyallahu ‘anhu bergemuruh tulang-tulangnya ketika berwudlu, ditanyakan kepada beliau kenapa engkau wahai hasan?. beliau radilallahu ‘anhu menjawab, “yang akan dihadapi adalah Allah Yang Maha Rahim”. Hati yang takut, tercermin didalamnya ketundukkan seorang hamba kepda Rabnya. Sifat yang agung yang dimiliki seorang hamba. Dzun Nun al-Mishriy pernah ditanya, “Kapankah seorang hamba itu takut kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala?” Ia menjawab, “Jika ia mendudukkan dirinya sebagai orang sakit yang menahan diri(dari berbagai hal) khawatir jika sakitnya berkepanjangan.”

Apa artinya tumpukan-tumpukan buku sunnah dimeja kita, apa artinya lidah yang basah berdzikir kepada Allah, dan apa artinya dadanya tertanam ayat-ayat al qur’an, akan tetap tingkah lakunya seolah tidak tercermin sebagi hamba yang tunduk di atas ketentuan al qur’an dan as sunnah. Yang dengannya ia tidak takut lagi akan berbuat maksiat kepada Allah dan rasul_Nya. Rasa takut yang tertanam begitu dalam menjadikan seorang hamba yang tangguh. Tidak ada satu hal yang ditakuti di dunia ini kecuali Allah. Banyak orang yag takut tidak diberi rizqi, sehingga ia berbuat semaunya tanpa peduli halal haram. Na’udzu billah

Tidak ada kata terlambat bagi seorang hamba disisi Allah. Masih ada kesempatan untuk mengolah rasa takut. Rasa takut yang mampu menjadi pemicu menjadi hamba yang tawadlu. Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat dari berbuat maksiyat. Rasa takut akan membakar bara syahawat yang melekat di jiwa-jiwa pelaku maksiyat. Sampai kapankah diri kita untuk tidak memperbaiki hati kita? Lihatlah saudaraku, Abu Bakr as-Shiddiq berkata, “Duhai, seandainya aku adalah sehelai rambut yang tumbuh di tubuh seorang mukmin.” Adalah beliau bila berdiri sholat, tak ubahnya seperti sebatang kayu (tidak bergerak) karena takut kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

“Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa” (QS. az-Zumar: 53)

“Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada RabbNya” (QS. Al-Bayyinah: 8)

Wahai angin yang berhembus, wahai air yang bergemruh, wahai daun-daun yang rindang saksikanlah!!!, bahwa kali ini aku ingin menjadi hamba yang takut akan Allah sebagiman anegkaupun takut pada Allah.

Wallahu ‘alam

Menangislah

Masih ingatkah anda ketika pertama kali Allah berkenan memberi jalan menuju kebaikan, dan aku sendiripun melupakan. Kebaikan yang memberi kita menjadi ikhlas beribadah dengan penuh ketaatan. Waktu itu, kita mungkin begitu sensitif sedikit saja mendengar kalamullah butiran-butiran lembut air mata ketundukan mudah jatuh dari sudut mata kita. masihingatkah kita akan waktu itu? ketika kita diperemukan dengan sebuah peristiwa yang menjadi sejarah baru yang mampu merubah arah berfikir kita.

Akan tetapi, lamanya kita hadir di majelis-majelis ilmu tak juga menjadi hati kita untuk se sesnsitif dulu lagi, keras dan keras. Berpuluh-puluh buku yang kita lahap tak mampu juga membuat hati kita luluh untuk tunduk demi takut kita kepada ilhi rabbi. Sudah sekeras itukah hati kita kini? lantunan-lantunan ayat-ayat suci kalamullah seolah olah tak mampu menggetarkan hati kita. Akankah kita lupa waktu itu? Menangis dan menangis, bahkan sujud-sujud panjang dalam qiyamul lailpun begitu hampa tanpa tangisan ketakutan dan ketundukkan. Setebal apakah karat-karat dosa yang menempel pada hati kita, entah sampai kapan hatiku sekeras ini.

Memaksakan diri untuk menangispun tak mampu, betapa kini telah tebal karat-karat dosa lantaran perbuatan maksiat yang mengisi sebagian umurku. Aku hampir-hampir tak percaya ini telah terjadi, dunia yang fana ini begitu mempesona, fitnah yang diselimuti keindahan kian memukau bahkan kesombonganpun mulai terselip menambah kerasnya hatiku. Aku coba menagis dan terus menangis, hingga pening kepalaku karena memaksakan diri untuk menangis. Ada apa gerangan akan hatiku ya rabb? bantu akau untuk menangis karena takut akan mrka_Mu, bantu daku untuk menangis karena menghiba memohon kepada_Mu, bantu daku ya rabb…mengapa kering air mataku dari penyesalan.

Di pojokan masjid aku mencoba merenungi dan ternyata aku sadari betapa berjuta-juta dosa bahkan lebih dosa telah aku perbuat. Aku sadar bahwa Engkau Maha Pengampun akan hamba_Nya. tapi kedzalimanku tak mampu melembutkan hatiku dan menangis dengan penuh penyesalan. Tidak aku sangga sudah seperah itu dosa yang aku perbuat. Untuk hatiku, betapa engkau kini telah berkarat yang membuat aku terasa berat utuk menagis mneyesal dan takut akan mura_Nya.

Aku mencoba menyendiri bak gadis pingitan, meratap dan berharap. Aku mencoba menyelami isi hatiku, di manakah hatiku kini yang dulu mudah untuk menangis karena dosa dan takut akan neraka, “aina qalbi, aina qalbi, aina qalbi…”. Seorang Dzunnun al mishri berjalan menyusuri pinggiran jalan setapak demi mencari hatinya, hati yang tunduk, hati yang pasrah akan Kehendak Allah yang Maha Rahmah. Ternyata hatinya di temukan lantaran anak kecil yang merengek minta belas kasih dari ibunya. Kasih sayang dari siapa lagi jika Allah Ta’ala tidak memberi kita kasih sayang, ampunan dari mana lagi jika Allah tidak memberi ampunan pada hamba_Nya. Sungguh kesombongan tinggallah kesombongan. Kita lupa bahwa kita tercipa dari setetes air mani yang hina.

Dan akhirnya, butiran air mataku menetes dari sudut mataku di akhir tulisanku ini. Aku temukan hatiku ikini…

MEMBACA AL-FATIHAH DI BELAKANG IMAM [SHALAT JAHRIYAH]

MEMBACA AL-FATIHAH DI BELAKANG IMAM [SHALAT JAHRIYAH]

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Pertanyaan
Syaikh Muhammad Nashidruddin Al-Albani ditanya : Anda menyebutkan dalam kitab Shalat Nabi, dari hadits Abu Hurairah, tentang di nasahkkannya (dihapuskannya) bacaan Al-Fatihah dibelakang Imam yang sedang shalat jahar. Kemudian anda mengeluarkan hadits ini, dan anda sebutkan bahwa hadits tersebut mempunyai penguat dan hadits Umar. Akan tetapi dalam kitab Al-‘Itibar Fi An-Nasikh wa Al-Mansukh yang dikarang oleh Al-Hazimii disebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh seorang yang tidak dikenal (majhul), dimana tidak ada yang meriwayatkan dari si majhul ini kecuali hadits tersebut, dan seandainya hadits ini tsabit, yang berisi larangan untuk membaca Al-Fatihah di belakang imam yang sedang membaca ayat, maka bagaimana pendapat anda tentang perkataan Al-Hazimi ?

Jawaban
Ini adalah perkara yang diperselisihkan oleh para ulama dengan perselisihan yang banyak. Dan perkataan Al-Hazimi ini mewakili para ulama yang berpendapat wajibnya membaca Al-Ftihah di belakang imam yang menjaharkan bacaannya.

Di dalam perkataannya ada dua sisi ; yang pertama, dari sisi hadits, yang kedua dari sisi fiqih

Adapun dari sisi hadits, ialah tuduhan cacat terhadap ke shahihan hadits tersebut dengan anggapan bahwa di dalam hadits tersebut terdapat seorang yang majhul (tidak dikenal). Akan tetapi kemajhulan yang di maksud ternyata adalah seorang perawi yang riwayatnya diterima oleh Imam Az-Zuhri. Tentang perawi ini, memang terdapat banyak komentar mengenai dirinya, akan tetapi mereka menganggap tsiqah (terpercaya), disebabkan pentsiqohan Imam Az-Zuhri, bahkan beliau telah meriwayatkan hadits darinya.

Dan hadits ini ternyata mempunyai penguat-penguat lain yang mewajibkan kita untuk menguatkan pendapat para ulama yang tidak membolehkan membaca Al-Fatihah di belakang imam yang membaca dengan jahar.

Yang paling pokok dalam hal ini, adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan jika dibacakan Al-Qur’an maka perhatikanlah, dan diamlah, agar kalian mendapat rakhmat” [Al-A’raaf : 204]

Pendapat seperti ini merupakan pendapat Imam Ibnul Qayyim, Ibnu Taimiyah dan lain-lain. Setelah mengkompromikan semua dalil yang ada akhirnya mereka menyimpulkan bahwa makmum wajib diam ketika imam menjaharkan bacaan, dan (makmum) wajib membaca ketika imam membaca perlahan.

Masalah sepelik ini tidak boleh disimpulkan hanya berdasarkan satu dua hadits saja. Tapi harus dilihat dari semua hadits yang berkaitan dengan masalah ini.

Maka seandainya kita berpendapat wajibnya membaca Al-Fatihah dii belakang imam ketika jahar, ini jelas-jelas bertentangan dengan berbagaii masalah dan dalil, dimana tidak mungkin bagi kita menentang dalil-dalill tersebut.

Dalil yang pertama kali kita tentang adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’âla : “Dan jika dibacakan Al-Qur’an maka perhatikanlah dan diamlah”, darii perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Bahwasanya dijadikan imam itu untuk diikuti, jika ia bertakbir, maka bertakbirlah, dan jika ia membaca, maka diamlah”

Termasuk juga satu pertanyaan bahwa jika seorang (makmum) mendapati imam dalah keadaan rukuk, maka ia telah mendapat satu rakaat, padahal dia ini belum membaca Al-Fatihah. Oleh karena itu hadits.

“Artinya : Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah”

Dan hadits-hadits lain yang semakna adalah merupakan dalil khusus, bukan dalil secara umum. Dan satu hadits (dalil) jika telah bersifat khusus, maka keumumannya menjadi lemah, dan iapun siap dimasuki pengkhususan yang lain, atau dimasuki oleh dalil yang lebih kuat tingkat keumumannya dari hadits tadi.

Maka disini, hadits : “Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Al-Fatihah”. Menurut kami menjadi hadits umum yang terkhususkan, dan pada saat itu juga hadits-hadits lain yang mengandung arti umum tentang wajibnya diam dibelakang imam dalam shalat jahar menjadi lebih kuat (tingkat keumumannya) dari hadits di atas.

Adapun hadits Al-Alaa”.

“Artinya : Barangsiapa yang tidak membaca Al-Fatihah maka shalatnya tidak sempurna”.

Maka hadits ini tidak marfu [1] kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ia merupakan pendapat Abu Hurairah, ketika ia menjawab dengan jawaban.

“Artinya : Bacalah dalam hatimu”

Dan kalimat : “Bacalah dalam hatimu” tidak bisa kita artikan membaca sebagaimana lazimnya, yaitu membaca dengan memperdengarkan untuk dirinya, dengan mengeluarkan huruf-huruf dari makhraj-makhraj (tempat-tempaty) huruf.

Dan kalaupun kita dianggap bahwa maksudnya adalah membaca dalam hatii sebagaimana bacaan imam dalam shalat sirriyah atau bacaan ketika shalat sendiri. Maka pendapat seperti ini yang merupakan pendapat Abu Hurairah, bertentangan dengan pendapat sebagian besar shahabat, dimana mereka telah berselisih pendapat masalah ini.

Perselisihan ini bukan hanya terjadi setelah zaman para shahabat, tapii perselisihan ini justru dimulai dari zaman mereka. Pendapat Abu Hurairah inii harus dihadapkan dengan seluruh dalil yang terdapat dalam masalah ini, tidak boleh hanya berdalil dengan pendapat beliau saja, karena bertentangan dengan sebagian atsar para shahabat yang justru melarang membaca Al-Fatihah di belakang imam yang shalat jahar.

Adapun hadits.

“Artinya : Janganlah kalian membaca di belakang imam kecuali dengan Al-Fatihahâh”.

Kami berpendapat bahwa pengecualian ini ia merupakan suatu tahapan, darii tahapan-tahapan syari’at.

Barangsiapa yang hanya berdalil dengan hadits ini, maka terdapat perkara-perkara yang harus dia ketahui bagaimana ia bersikap terhadap hadits-hadits tersebut. Diantaranya ialah perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Janganlah kalian membaca”, adalah suatu larangan. Dan perkataan beliau : “Melainkan Al-Fatihahâh” adalah pengecualian dari larangan tersebut. Apakah ini secara bahasa pengecualian ini menjelaskan adanya kewajiban yang dikecualikan (dalam hal membaca Al-Fatihah), atau hanya sekedar bolehnya ? Masalah ini harus diteliti lebih dalam lagi. Pendapat yang kuat, bahwa boleh membaca Al-Fatihah, bukan wajib.

Disamping itu kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri adalah bahwa orang yang mendapatkan ruku’nya imam berarti ia mendapatkan rakaat tersebut.

Bagaimanapun juga, dalam masalah ini kami mempunyai suatu pendapat, yang memperkuat pendapat jumhur, dan pendapat ini sama dengan pendapat Imam Malik dan Ahmad. Dan Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa pendapat ini adalah pendapat yang paling adil. Dan dalam hal ini kami tidak ta’ashub (fanatik).

[Disalin dari buku Majmu’ah Fatawa Al-Madina Al-Munawarah, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Albani, Penulis Muhammad Nashiruddin Al-Albani Hafidzzhullah, Penerjemah Adni Kurniawan, Penerbit Pustaka At-Tauhid]
_________
Foote Note
[1]. Hadist Marfu’ adalah hadits yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,-pent

al manhaj.or.id