Sebuah tulisan yang sempat tertunda, akhiranya selesai juga …
Menikah, dengannya telah nyata bukti cintanya tulus atau terpaksa, bagaiakan air yang telah benar-benar mendidih di dalam pancinya setelah lama dipanaskan dengan panas api yang sempurna, telah nyata emas kemurnianya setelah disepuh dengan api yang telah sempurna panasnya dan, telah sempurna manisnya buah durian yang terjatuh dari tangkainya setelah lama dimaksak di setiap dahannya. Tidak ada lagi kesamaran setelah menikah. Kekurangan dan kelebihan telah nampak nyata disetiap detik masa yang terlalui bersama, setiap desahan nafasnya, telah nyata di setiap lekuk anggota tubuhnya dengan kekurangan dan kelebihannya.
Mereka yang sudah merasa berat untuk berkata ‘istriku, aku sungguh mencintaimu”, ketika telah banyak anak yang dimilikinya laksana mawar–mawar sebagi lambang kedamaian dalam bahtera rumah tangganya. Tuntutan kesetiaannya mulai teruji di saat istri tak lagi mampu bersolek dengan make upnya yang sesuai dengan warna kulitnya, tatanan rambutnya yang sesuai dengan bentuk kepalanya, cara berpakaian yang sesuai dengan kondisisnya. Sanggupkah kita untuk ikhlas dengan setulus-tulusnya “aku akan tetap setia untukmu”. Suami yang tak lagi kokoh langkahnya, kekar dadanya, serta tak lagi setampan ketika pertama kali membuatnya terpesona. Subahanallah.
Sejarah yang dicatat dalam kitab-kitab para ulama bagaiamana naik turunnya bahtera rumah tangga diterpa badai. Tidak terkecuali rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam habibul mustafa,. Beliau pernah berniat menceraikan istrinya, beliau pernah bertengkar dengan istrinya dan beliau pernah mendiamkan salah satu istrinya yang karenanya al qur’an turun menyelesaiakan parmasalahan yang dihadapainya. Lihatlah diri kita, umat yang jauh dari sebuah generasi di mana wahyu terus turun memberi pemecahan di setiap permaslahan yang ada ketika itu.
Umar bin khattab, salah satu khalifah yang tegas, tapi ketegasannya tidak berarti ap-apa ketika menghadapi sifat istrinya. Ali bin abi thalib, salah satu sahabat pilihan yang pemalu, mendapat gelar abu turab lantaran tidur di lantai masjid sebab perselisihannya dengan Fatimah ummul mukminin. Begitu juga rasulullah, yang melaluinya syariat Islam tersampaiakan, istrinya pernah pulang kembali ke ayahnya lantaran kemarahannya kepada beliau. Sungguh satu hal yang sangat mungkin bagi umatnya(bmuhammad shalallahu ‘alaihi wasallam) berselisih dengan istri-istrinya.
Wahai keluarga muda, apa kata Islam tentang keluarga muslim, bukan berarti bebas dari masalah akan tetapi bagaimana ia bisa memecahkan masalah dengan bijak tanpa ada yang dirugikan dan terdzalimi. Bukan kata terakhir di setiap perselisishannya dengan kata ‘cerai”. Wanita tercipata dari tulang rusuk yang bengkok yang ditakdirkan untuk laki-laki. Wanita adalah mahkhluk Allah yang menkajubkan yang mampu mengalahkan laki-laki yang tegas. haruskah haruskan seorang laki-laki tunduk begitu saja mengahdapi kedurhakannya, yang dicari adalah bagaimana seorang suami mampu mengantarkan kebahagiaan di dunia dan akhiratnya dari tulang rusk yang bengkok itu. Teantangan besar memang…
Untuk sebuah kebahagiaan, dituntut bagi suami istri mampu mengolah perselisihan menjadi ramuan cinta baru yang dengannya kenikmatan rasanya bertambah sempurna, sebagamana sempurnanya benang dengan sutranya. Meramu cinta adalah sebuah kepandaian bagia suami istri yang ingin memuluskan bahtera rumah tangganya untuk berlayar menuju samudra luas. Dengannya cinta mampu senantiasa memberi kekuata baru tak terkecuali adalah mampu maenempa kedewasaan yanjadi matang, sebagaimana sempurnanya mawar ynag mekar di sinari cahaya mentari pagi, begitu sempurna keindahannya.
Kedewasaan muncul bukan tanpa ujian,, selalulah hadapi setiap permasalahan dengan menggali setiap pemecahannya. Tidak melulu menambah tajamnya perselisihan yang dengannya perceraian yang berujung pada penyesalan. Seorang istri memahami bahwa tabiat suaminya ingin ditaati, seorang suami memahami, bahwa tabiat istri ingin dicintai. kenapa tidak sama-sama berhenti sejenak ketika pertengkaran memanas. Jangan sampai ada satu cerita menyedihkan, bahwa seorang istri bercerita” aku seorang istri yang siudah memiliki enam anak, tapi saat ini yang muncul dipikiranku adalh meninggalkan mereka. Aku tidak lagi mendengar kelembutan tutur kata dari suamiku, kekasarna suamiku yang dengannya aku tidak lagi bersandar di dada bidangnya. Aku tidak lagi dibuai oleh pelukan hangatnya yang membuatnya aku merasakan kedamaian. aku ingin sekali bercerai, tapi…..”
Sebuah cerita menarik, ada seorang istri mengeluahkan uang balanja yang mulai kurang karena naiknya harga-harga sembako. maka seorang suami membuat catatan kecil yang isi tulisannya adalah”perbaikilah tempat ini, kelak engkau akan cukup”, kemudian secarik kertas diletakkannya di dapur. Setelah catatn itu dibaca oleh sang istri, maka sang sitripun tidak mau kalah dan ia membuat catatn di secarik kertas juga, yang isinya adalha” perbaikilah tempat ini”, kemudian sang istri meletakkan catatan kecilnya di kasur, ternyata suaminyapun membacanya. Kiranya demiian adalh satu keterus terangan yang tersembunyi. kenapa kita tidak bisa bermusyawarah, bagaimana memecahan masalah di setiap perselisihan yang dihadapinya.
Dituntut, kepandaoian dari suami seni merayu istri dan kelincahan seorang istri yang dengannya seorang suami bagaiakna bayi besar, muka merah karena marah menjadi merah karena malu, subahanallah. Di manakah kepandaian itu? jangan biarakan suami merasa puas melihat kecantikan wanita-wanita yang terlihat oleh suami di tepian jalan, terpampang di majalah-majalh, berperan di sinetron-sinertron. Jangan sampai seorang suami mendengar dari telingany ucapan istri” suamiku, engkau adalah orang yang tidak asing lagi bagiku”, la khaula wala quwwata illa billah…”
Diceritakan dalam sebuah hadits yang shahih, riwayat nasi, suatu hari Safiyyah radiyallahu ‘anha mendapat giliran safar bersama rasulullah. Beliau radiyallahu ‘anha diberikan sebuah onta, Keingin dari Safiyyah adalah agar beliau bisa bercengkerama dengan rasulullah habibul mustafa. Akan tetapi malang bagi dirinya unta yang ditumpanginya tertinggal. Akhirnya sesampainya di tujuan, Shafiyahpun berkata kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam “wahai rasulullah, engkau berikan aku unta yang lambat?”, kemudian Shafiyahpun menangis dan kemudian pula Rasulullah menyeka air matanya dan setelah itu mendiamkan. Akan tetapi di tunggunya Safiyyah ternyata tidak juga berjhenti dari tangisannya karena kecewa tidak bisa bercengkerama dengan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Akhirnya beliau tinggal Shafiyyah yang sedang menangis. Subahanallah. Telah shahih cerita-cerita indah bagaimana perlakuan =Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika bergaul dengan istri0istrinya.
Wahai generasi muda yang baru melangkah menapaki kaki menuju bejtera rumah tangga, belajarlah dari kisah-kisah indah bagia mana Rasulullah memecahkan masalh rumah tangga, biasakanlah membaca hadits0hadits, yang dengannya terkumpul dalam diri kita ilmu yang menjadikan kokoh cinta kita..Jangan belajar dari cintanya Kahlil gibran,, jangan belajar dari cerita cinta yang ada di senotron-sinetron dan jangan belajar dari cinta yang ada di novel-novel orang-orang yang telah dirasuki oleh saithan.
Belajar menjadi dewasa? menikahlah…
Tunggu berikutnya”nasihat emas bagi para istri yang dirindu para suami” dan “memupuk kerinduan ketika cinta terasa bosan”insyaAllah…