Menjadi suami plus murabbi

Isteri mana yang tidak bangga punya suami plus murabbi. Dengannya menjadi tempat berlabuh cinta sekaligus penyejuk batinnya dengan siraman-siraman rohaninya. Suami pilihan, menjadi dambaan setiap akhwat.
Ia(suami) mampu menjadikan setiap saatnya sebagai ladang pahala dengan nasihat di setiap kata-katanya, membawa kedamaian. Subahanallah…

Allah T’ala berfirman:

Artinya : Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suami-nya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz[1] , hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.” [An-Nisaa' : 34]

Ada saat-saat di mana paling tepat bagi ana untuk selalu bermulazamah dengan istri ana, dengan niat ikhlas ana niatkan diri ana sebagi suami ani hamida, tarbiyah demi tarbiyah sering menjadi waktu tersendiri dan bahkan berusaha seistimewa mungkin. Memang perselisihan selalu ada, namun manakala ana dan istri ana teringat akan konsekwensi kami berdua menjadi cairlah apa yang di perselisihkan di antara kami.

“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [At-Tahrim : 6]

Saling memaafkan menjadi hal yang selalu menjadi kebiasan manakala terjadi salah paham di antara suami dan isteri mana kala salah dalam penyampaian. Dua latar belakang yang berbeda itulah yang terjadi di antara keduanya namun seketika itu pula menjadi cair mana kala teringat beberapa permintaan dari istri salah satunya adalah “ajaklah aku menuju surga”. Saatnya saling mengingatkan menjadi hal yang rutin dalam setiap kesempatan.

Akhirnya, menjadi murabbi bagi isteri, sadar atau sadari menjadi murabbi + suami menuntut lebih agar suami lebih dalam dan giat lagi mendalami ilmu-ilmu syar’i yang ada, di mana di dalamnya terdapat sunnah-sunnah yang haq. Dan akhirnya pula tidak ada kata berhenti mengaji setelah nikah, tidak dan tidak

Yang di pahami pula, siapa saja pada dasarnya secara fitrah tidak akan menolak kebenaran, hanya watak aslilah yang membuatnya enggan mengakui kebenaran, karenanya perlu kejelian dalam mentarbiyahnya(isteri), baik waktu, tempat agar terasa pas kebenaran itu di terimanya.

“Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau membiarkannya, ia akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berwasiat-lah kepada wanita dengan kebaikan.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5185-5186) dan Muslim (no. 1468 (62)), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu].

Suami plus murabbi, akwat mana yang tidak memimpikannya….

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s